A

A. Konsep Ketahanmalangan (Adversity Quotient)
1. Pengertian Ketahanmalangan (Adversity Quotient)
Haryanto ketahanmalangan (adversity quotient) memberikan gambaran seberapa jauh seseorang dapat bertahan menghadapi kesulitan dan kemampuan untuk mengatasinya.
Ari menyebutkan adversity quotient sebagai kecerdasan yang dimiiki seseorang dalam mengatasi kesulitan dan bertahan hidup (Agustian, 2007).
Selama seseorang masih hidup pasti akan menemukan hambatan-hambatan didalam kesehariannya dan semakin tinggi derajat seseorang permasalahan atau kesulitan yang dihadapi akan semakin besar juga. Seperti halnya yang dikemukakan oleh Liisa, Tenacity, persistence, and toughness, perhaps even hardheadedness, in the face of adversity. it is a personal (or national) quality, one that may be necessary to survive (Valikangas, 2010).
Sederhananya ketahanmalangan (adversity quotient membahas mengapa seseorang mudah menyerah dan beberapa orang yang lain memiliki daya daya tahan yang luar biasa menghadapi tantangan (Kondani, 2010).
Kehidupan sehari-hari disetiap orang sering ditemukan kenyataan yang selalu berpasang-pasangan seperti ada siang ada malam, ada panas ada dingin, ada kuat ada lemah, dan juga ada kemudahan serta ada kesulitan. Kemudahan dan kesulitan merupakan suatu yang tidak bisa kita hindari dalam suatu kehidupan. Manusia senantiasa mengharapkan selalu kemudahan dalam hidupnya, dengan begitu seseorang harus mencari jalan atau menghindari celah-celah kesulitan tersebut. Berusaha dan selalu berdo’a terhadap sang pencipta merupakan pegangan yang harus dimiliki oreh seseorang. Seperti yang dikatakan Nelson dalam Ahmad, ketahanmalangan menggambarkan suatu ketahanan fisik, mental, spiritual untuk mengatasi perubahan yang cepat (Ahmad, 2013). Sependapat dengan Stoltz, (adversity quotient) memberi tahu seberapa jauh seseorang bertahan menghadapi kesulitan dan mampu mengatasinya. Adversity Quotient meramalkan siapa yang mampu mengatasi kesulitan dan siapa yang akan hancur. Adversity Quotient merama siapa yang akan melampaui harapan-harapan atas kinerja dan potensi mereka serta siapa yang gagal, adversity quotien tjuga meramalkan siapa yang akan menyerah dan siapa yang akan bertahan hidup (Stoltz, 2000).
Berdasarkan deskripsi dan penjabaran diatas, maka dapat disintesiskan ketahanmalangan (adversity quotient) adalah kesanggupan seseorang dalam memahami dan menggunakan segala sumber kekuatan untuk mengatasi kesulitan dan rintangan dalam kehidupan secara konstruktif dan konsisten.
2. Ketahanmalangan (Adversity Quotient) Pada Anak Usia Dini
Ketahanmalangan (adversity quotient) berperan penting dalam kehidupan ini, dengan ketahanmalangan (adversity quotient) seseorang dapat menyelesaikan masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Ketahanmalangan (adversity quotient) harus distimuluskan kepada anak sejak dini. Ketahanmalangan (adversity quotient) akan memberikan dasar bagi anak untuk tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang lebih kompleks. Permasalahan dilingkungan sekitar tidak dapat kita hindari, dengan memiliki kecerdasan ketahanmalangan (adversity quotient) yang tinggi anak akan mampu mengatasi masalah yang mereka hadapi, semakin dini kecerdasan ini distimulus semakin mudah untuk dikembangkan, dalamhal ini anak akan melihat suatu masalah bukan sebagai suatu hambatan untuk maju. Michael mengatakan bawasannya anak-anak seharusnya diajari untuk menghadapi tantangan kehidupan dengan rasa percaya diri dan keberanian, kegagalan dan rintangan yang bersifat sementara tak perlu mematahkan kepercayaan yang positif mengenai mereka sendiri dan ketrampilan untuk ditingkatkan (Biddulp dan Gradstein 2010).
Pengkonsumsian asupan makanan juga mempengaruhi terhadap kecerdasan anak usia dini, seperti yang disampaikan oleh Widya anak-anak yang memiliki ketahanmalangan (adversity quotient) yang baik mereka tidak tidak mengalami stres, sehingga produksi hormon adrenalin akan berada dalam jumlah wajar, bagi anak-anak yang mudah stres akan mengalami gangguan keseimbangan hormonal, vitamin dan mineral terkuras, serta sistem kekebalan tubuh melemah, sehingga mudah terserang penyakit (Puspita, 2015).
Selain itu Ketahanmalangan (Adversity Quotient) yang tinggi sangat tergantung pada kualitas otak anak, dan kualitas otak ini sangat dipengaruhi oleh asupan nutrisi yang tepat bagi anak asupan nutrisi ini tidak hanya ketika anak telah dilahirkan, tetapi juga ketika masih berada dalam kandungan (Puspita, 2015).
Berdasarkan seluruh uraian yang menjabarkan ketahanmalangan (adversity quotient), maka dapat disimpulkan bahwa ketahanmalangan (adversity quotient) adalah kesanggupan seseorang dalam memahami dan menggunakan segala sumber kekuatan untuk mengatasi kesulitan dan rintangan dalam kehidupan secara konstruktif dan konsisten yang mencakup aspek: 1) control atau kendali 2) orgin dan ownership (asal usul dan pengakuan) 3) Reach (Jangkauan), 4) Endurance (Daya tahan).
B. Konsep Outbound
1. Pengertian Outbound
Banyak kegitan di alam terbuka yang dapat dilakukan untuk meningkatkan adrenalin dan membuat diri terasa lebih bergairah dan bersemangat. Sebagaimana Outbound yang telah lama dikenal sebagai kegiatan alam terbuka yang dilaksnakan dengan menggunakan peratalan yang dipajang dan diinstal di lingkungan terbuka untuk dilalui atau digunakan oleh para pegiat Outbound. Hal ini sebagaimana dijelaskan Szikron (2014) yang mengartikan Outbound adalah kegiatan yang dilakukan di alam terbuka (outdoor) sehingga dapat memicu dan menimbulkan semangat pada diri pelaku Outbound. Dari hal ini, dapat dikatakan bahwa Outbound identik dengan kegiatan yang dilakukan di luar ruangan (out door) dengan maksud dan tujuan tertentu.
Penjelasan lebih lanjut datang dari Sutawijaya (2008) dimana Ia mengatikan antara Outbound dengan “karakter”. Menurutnya, Outbound merupakan experiential learning (pembelajaran langsung) yang disajikan dalam bentuk permainan atau simulasi yang dapat mengubah karakter seseorang. Adanya progres karakter diyakini sebagai akibat dari Outbound yang dilakukannya.
Sejalan dengan hal tersebut, tepatnya dikaitkan lebih luas oleh Asti (2009) bahwa Outbound merupakan kegiatan penuh tantangan berbentuk stimulasi kehidupan melalui games yang kreatif dan rekreatif baik secara personal maupun tim dengan tujuan untuk untuk mengembangkan diri dan kelompok. Pada intinya, Outbound sebagaimana pendapat ini dapat disamakan dengan permainan yang sarat dengan tantangan; dari tantangan tersebut lahir aspek-aspek psikologis dan metodis yang dapat mengembangkan diri anak baik sebagai individu dan anggota dari suatu kelompok.
Menurut Ancok, (2011), pengembangan individu sebagai sebuah tim bertujuan untuk melatih emosi; diawali dengan tugas-tugas yang mudah, selanjutnya secara bertahap kegiatan yang dirancang dapat meningkatkan kegiatan pengembangan diri lebih lanjut yang tentunya menuntut peserta untuk lebih kreatif dan penuh dengan keberanian. Sehingga dalam hal ini, kerja sama tim dan antar tim semakin meningkat pada setiap peserta. Seiring dengan berjalannya kegiatan Outbound tahap demi tahap pada seluruh rangkaian kegiatan Outbound yang dilakukan di alam terbuka.
Berdasarkan hal tersebut di atas maka dapat dikatakan bahwa Outbound merupakan games simulasi langsung yang dilakukan di alam terbuka sehingga dapat melibatkan anak secara aktif, kreatif dan menyenangkan sehingga dapat dicapai tujuan tertentu terutama untuk meningkatkan kesatuan tim dan kepercayaan diri anak secara personal dan sosial.
2. Tujuan Outbound
Tujuan Outbound pada dasarnya telah dijelaskan di atas yakni digunakan terutama untuk melatih karakter anak menjadi lebih berkembang secara positif. Disamping itu, kegiatan Outbound perlu juga dilaksanakan untuk membangun diri anak secara psikologi; yakni melakukan pengembangan diri yang baik pada anak baik secara individu maupun kelompok.
Disamping itu, dimana Outbound memiliki keterkaitan antara pembentukan karakter dan pengembangan diri dan kelompok yang bersifat positif, dapat dijabarkan beberapa tujuan yang lebih rinci dan jelas sebagaimana dipaparkan Muhammad (2009) bahwa Kegiatan Outbound dapat: (a) menjabarkan kelemahan serta kekuatan diri anak, (b) mendukung cara anak dalam berekspresi sesuai dengan cara anak sendiri, dimana hal tersebut masih dapat diterima oleh lingkungan dan masyarakat dalam konteks kehidupan sosial, (c) membantu mengenali dan lebih memahami perasaan dan pendapat orang lain serta menghargai perbedaan, lebih mandiri dan bertindak sesuai dengan keinginan, (d) lebih empati dan sensitif dengan perasaan orang lain, (e) melatih anak untuk lebih mampu melakukan komunikasi secara lebih baik, (f) membantu anak dalam mengetahui dan memahami cara belajar yang lebih efektif serta kreatif, (g) membantu menanamkan nilai-nilai positif pada diri anak, dan (h) membantu anak dalam menerapkan dan memberi contoh karakter yang baik kepada lingkungannya dan orang sekitar.
3. Langkah Penerapan Outbound
Sebagaiman dijelaskan sebelumnya, maka kegiatan Outbound pada dasarnya adalah kegiatan yang dirancang di alam terbuka. Dapat dijelaskan secara umum, terdapat beberapa hal yang dipersiapkan dalam melaksankan kegiatan Outbound yang baik seperti menetapkan tujuan/target, menentukan lokasi kegiatan, menyiapkan alat yang diperlukan, serta menyiapkan tim instruktur (Baditul, 2011). Hal-hal tersebut dapat dipahami lebih lanjut dengan memperhatikan uraiannya sebagai berikut.
a. Menerapkan Tujuan/Target
Tujuan utama pada kegiatan Outbound adalah untuk meningkatkan kemampuan persoanal dan tim para peserta yang mengikutinya. Set goal atau penetapan tujuan ini sangat penting sehingga kegiatan Outbound dapat dirancang apakah akan berorientasi pada individu atau kerjasama tim. Hal ini akan menentukan alat dan bahan yang akan digunakan serta proses permainan yang seperti apa yang dibutuhkan dalam Outbound tersebut.
b. Menentukan Lokasi Kegiatan
Penetuan lokasi ini sangat krusial setelah menentukan target Outbound yang akan dilaksanakan sudah jelas. Lokasi sebaiknya dipilih berdasarkan kriteria yakni sesuai dengan tujuan dan tentunya alat dan bahan yang digunakan. Untuk Outbound yang peserta anak-anak sebaiknya disesuaikan dengan tingkatan usia dan hendaknya dekat lingkungan sekolah agar dapat dikontrol dan dipantau sebaik mungkin.
c. Menyiapkan Alat yang Diperlukan
Alat dan bahan tergantung pada target kegiatan Outbound yang akan dilakukan apakah berorientasi individu atau tim. Alat dan bahan yang digunakan sebaiknya mempertimbangkan bahaya atau tidaknya terhadap penyelengggaraan Oubtbound. terutama bagi peserta anak-anak yang belum mengetahui mana alat yang membutuhkan kehati-hatian atau tidak.
d. Menyiapkan Tim Instruktur
Tim Instruktur merupakan tim yang mengamankan dan memandu jalannya Outbound. Tim ini sangat dibutuhkan agar Outbound berjalan dengan tertib aman dan nyaman bagi semua perserta. Tim ini mengatur perpindahan berbagai rangkaian permainan, mencontohkan gerakan dan proses serta mengawasi jalannya Outbound sampai selesai.
Dalam konteks pendidikan di sekolah, maka tim ini dibentuk dari guru dan tenaga kependidikan. Apabila memungkinkan, tim ini juga dapat berasal dari teman satu kelas yang tentunya lebih mahir dan dianggap mampu dan layak untuk menjalankannya. Dari segi usia juga tentunya dipilih anak yang memiliki tingkat kematangan dari segi usia dan fisik bila dibandingkan dengan teman-temannya.
4. Manfaat dan Tujuan Outbound Bagi Anak
Terdapat berbagai manfaat secara psikologi Outbound bagi peserta yang melakukannya sebagaimana dikuti dari Djamaluddin (2002) antaralain:
a. Manfaat Secara Fisik
Outbound secara fisik dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan diri dalam melakukan kreatifitas. Outbound menyuguhkan aktifitas yang tidak biasa sehingga dapat memicu adrenalin dalam tubuh.
Sehingga dapat dikatakan bahwa rangkaian kegiatan Outbound dapat memberikan pengayaan yang berbeda bagi fisik motorik anak terutama dalam bentuk: (1) anak akan mengamalami pengalaman yang menantang dan memicu adrenalin, (2) melatih keterampilan mengendalikan dan mengelola stress dalam diri secara lebih sehat dan tepat dan (3) melalui Outbound dapat diketahi mengukur kemampuan diri sehingga anak nantinya tidak beraktifitas dan berbuat sesautu tidak sampai melebih kapasititas diri yang dimilikinya.
b. Manfaat Secara Psikologis
Dari kegiatan Outbound yang dilakukan, maka anak dengan sendirinya akan mendapatkan manfaat secara psikologis: (1) melalui Outbound anak-anak akan mendapatkan rasa kepercayaan diri yang cukup tinggi dan tidak mudah merasa putus asa dan rendah diri, (2) anak akan mendapatkan pemahaman tentang konsep diri yang lebih baik dari sebelumnya dan (3) anak akan memiliki keberanian diri dalam rangka menguji kemampuan diri sendiri terutama terhadap hal-hal yang dapat dan tidak dapat dilakukannya.
c. Manfaat Secara Sosiologis
Tantangan dan rintangan yang ada pada Outbound akan melatih anak dalam: (1) memupuk dan mengembalikan sikap peduli pada orang lain dan lingkungan sekitar, (2) mengembangkan dan memupuk kemampuan komunikasi dengan orang lain baik terhadap orang dewasa maupun teman sebaya, dan (c) melatih dan mengembangkan kemampuan untuk membangun koneksi dan persahabatan dengan orang lain.
d. Manfaat Edukational
Manfaat pendidikan yang akan didapatkan ketika melakukan Outbound adalah melatih daya juang untuk bekerja keras; melatih mental untuk meyelesaikan tantangan. Outbound juga mendidik dan membiasakan berusaha sekuat tenaga dalam menyelesaikan pekerjaan, bersifat kreatif dan pintar mencari solusi secara tepat dan cepat.
e. Manfaat Fiskal
Kegiatan di luar ruangan seperti Outbound akan melatih anak dalam mengembangkan fisik motoriknya secara menyenangkan. Outbound memberikan ruang yang cukup bagi anak dalam bergerak. Keseimbangan antara fisik dan jiwa akan didapatkan anak karena Outbound merupakan kegiatan yang menantang dan menyegarkan pikiran. Faktor ini tentu berpengaruh besar pada perkembangan fisik anak secara bertahap.
f. Manfaat Spiritual
Outbound menciptakan kondisi spiritual yang seimbang. Outbound melatih anak dalam menggunakan hati, akal dan fisik secara seimbang dan tepat. Apabila dilakukan terus menerus maka akan dapat: (1) pengetahuan anak akan tergali dan terlatih dengan baik yang tentunya didapatkan dari penalaran yang baik, (2) kegiatan Outbound menjadi pusat kekuatan moral karena melatih untuk sadar bahwa tantangan akan selalu ada dan bagaimana untuk bangkit dan ikhlas sekuat tenaga dalam menaklukannya serta (3) dapat pusat kekuatan diri dan menghayati karunia Tuhan yang menciptakan kemampuan dan kemauan dalam menaklukkan segala rintangan dan tantangan.

x

Hi!
I'm Delia!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out